Pendidikan Multikultural dalam Tasawuf: Integrasi Epistemologis, Manifestasi Nilai, dan Resolusi Konflik Berbasis Spiritual
DOI:
https://doi.org/10.55210/azn7dc62Keywords:
Pendidikan Multikultural, Tasawuf, Resolusi Konflik, Pondok Pesantren, Society 5.0, Tazkiyatun NafsAbstract
Artikel ini mengkaji integrasi pendidikan multikultural dan nilai-nilai tasawuf di pondok pesantren Nusantara sebagai upaya strategis merespons kemajemukan bangsa dan mencegah konflik identitas di tengah dinamika era Society 5.0. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologis dan epistemologi konstruktivisme melalui studi multikasus yang berlokasi di Pondok Pesantren Ngalah (Pasuruan), Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong (Probolinggo), dan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo Jabung (Malang). Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen, yang ditopang oleh studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima dimensi pendidikan multikultural gagasan James Banks memiliki akar teologis yang sinergis dalam praksis tasawuf klasik. Manifestasi inklusif-pluralis diwujudkan secara nyata melalui keteladanan otoritas kiai, internalisasi etika kesufian melalui Satlogi Santri, serta transformasi kerangka Tasawuf Akhlaki menuju Tasawuf Amali. Lebih lanjut, metode penyucian jiwa (Tazkiyatun Nafs) terbukti berfungsi sebagai paradigma teologi transformatif yang mendorong percepatan evolusi kesadaran sosial—dari sekadar sikap toleransi pasif (Tasamuh) menuju aktualisasi cinta kasih universal tanpa sekat (Mahabbah) yang berbasis pada kesalehan paripurna (Ihsan). Sinergi antara ketahanan spiritual tasawuf dan pedagogi multikultural modern sangat efektif dalam mencetak generasi Insan Kamil. Generasi ini diproyeksikan memiliki ketahanan batin dan ketajaman rasio intelektual yang tangguh untuk menghadapi guncangan krisis moral dan disorientasi identitas di peradaban global masa depan.



