Manajemen pendidikan islam multikultural berbasis tasawuf dalam membangun kohesi sosial di era society 5.0

Authors

  • Muhammad Hifdil Islam Universitas islam zainul hasan genggong Author

DOI:

https://doi.org/10.55210/zsv5s313

Keywords:

Pendidikan Islam Multikultural, Moderasi Beragama, Pesantren, Toleransi, Society 5.0, Kohesi Sosial, Tasawuf, Manajemen Pendidikan

Abstract

: Artikel ilmiah ini mengkaji secara komprehensif formulasi, implementasi, dan implikasi filosofis dari manajemen pendidikan Islam multikultural berbasis tasawuf di ekosistem pondok pesantren sebagai strategi paradigmatik dalam merespons kemajemukan bangsa dan mengeliminasi krisis konflik identitas di era Society 5.0. Realitas kemajemukan sosial sering kali direduksi menjadi sumber segregasi yang destruktif akibat kelemahan ontologis dari sistem pendidikan agama konservatif yang bersifat eksklusif, terlampau formalistik, dan kering dari kedalaman nilai nilai spiritualitas pendidikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi paradigma pendidikan lama tersebut menuju sebuah teologi multikultural melalui pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan sosiologi pendidikan, filsafat, dan tasawuf kontemporer. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan kerangka epistemologi konstruktivisme melalui studi multikasus di lembaga pendidikan pesantren terkemuka, di antaranya Pondok Pesantren Ngalah (Pasuruan), Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong (Probolinggo), dan Pondok Pesantren Sunan Kalijogo Jabung (Malang). Pengumpulan data primer dieksekusi melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen, yang ditopang oleh triangulasi data secara ketat. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa manajemen pendidikan multikultural di pesantren secara apik menyintesiskan kelima dimensi multikultural James Banks dengan nilai nilai esoterik tasawuf. Inklusivitas pendidikan termanifestasi melalui keteladanan otoritas kiai, internalisasi etika melalui Satlogi Santri, dan reorientasi dari Tasawuf Akhlaki menuju Tasawuf Amali. Lebih jauh, metode Tazkiyatun Nafs bertindak sebagai paradigma resolusi konflik dan teologi transformatif yang memacu rekonstruksi kesadaran sosial—bergerak dari sekadar penerimaan pasif (tasamuh) menuju empati universal yang paripurna (mahabbah) berlandaskan pada hakikat ihsan. Sintesis antara humanisme religius dan pedagogi pluralisme ini menawarkan novelty konseptual berupa model pendidikan peradaban yang memposisikan ketahanan spiritual tasawuf sebagai pilar utama transformasi sosial. Penemuan ini secara teoritis mengontribusikan landasan epistemologis bagi pembentukan civil society yang berkeadaban, moderat, dan memiliki daya resiliensi tinggi dalam menghadapi disrupsi moral di abad digital.

Downloads

Published

2026-09-17

Issue

Section

Articles